ABN dan Yayasan Sukma, Sumbangsih NasDem untuk Bangsa Indonesia

JAKARTA (3 Agustus): Akademi Bela Negara (ABN) dan Yayasan Sukma bukti nyata kontribusi Partai NasDem bagi bangsa Indonesia. Hal ini dikemukakan Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh saat menerima kunjungan Ulama dari Aceh di Kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai NasDem, Jalan RP Soeroso, Gondangdia, Jakarta Pusat, Selasa (01/08).

“Karena kita ingin memperkuat semangat keindonesian kita, kebangsaan kita. Kalau kita tidak memperkuat semangat kebangsaan ini, kita akan kehilangan Indonesia. Kalau kita kehilangan Indonesia, artinya kita adalah warga negara yang tidak mampu bersyukur apa yang telah diberikan Sang Pencipta,” kata Surya Paloh.

Di ABN, ada 500 siswa dari seluruh Nusantara diasramakan untuk menempuh pendidikan kebangsaan, termasuk anak-anak  dari Aceh. Mereka yang diasramakan akan menempuh pendidikan selama 4 bulan untuk membentuk kepribadian yang lebih baik, melahirkan disiplin yang lebih bagus, dasar-dasar keilmuwan yang bertambah, serta bertambahnya rasa sayang mereka untuk negeri ini.

Sementara di Aceh, Media Group telah mendirikan Yayasan Sukma, sebuah lembaga non-profit yang menaungi anak korban Tsunami. Hingga sekarang yayasan tersebut masih terus menjaga komitmen mendidik putra putri Aceh, terutama dari kalangan kurang beruntung.

“Di Aceh sendiri kita memiliki sekolah Sukma yang insya Allah masih berjalan baik, tentunya berkat doa-doa Abu  (Ulama) semua. Sekolahnya bukan komersil, itu karena doa dari anak-anak yatim diniatkan untuk kebajikan, sekolah itu tanpa terasa menjadi sekolah yang dilihat dunia internasional, khususnya Filipina, ingin belajar di Sekolah Sukma,” jelas Surya Paloh.

Dalam kesempatan tersebut, Surya menceritakan sejarah tersembunyi di belakang ketertarikan Filipina pada Yayasan Sukma. Seperti diketahui, pada Mei 2016 Ahmad Baidowi memimpin pembebasan Warga Negara Indonesia (WNI) di Mindanao, Filipina, dan berhasil.

“Ketika peristiwa WNI yang ditawan, disekap beberapa waktu lalu, saya memerintahkan NasDem untuk membebaskan tawanan Indonesia yang ada di sana. Kita berhasil membebaskan itu tanpa banyak bicara,” terang Surya.

Tindakan gemilang itu, lanjut Surya, tak diraih secara gratis. Ada 40 anak dari Filipina yang dititipkan di Yayasan Sukma sebagai barter dengan sandera. Setelah selesai bersekolah, pihak Filipina tertarik untuk mengembangkan sekolah dengan model yang persis seperti Yayasan Sukma. “Kita punya potensi untuk menjadi negara besar. Kalau pengelolaannya diatur dengan baik,” pungkas Politikus kelahiran Aceh ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *