Sekolah Kader, Peserta Belajar Strategi Pemenangan Pemilu

JAKARTA (7 April): Pemilu legislatif 2014 menjadi ajang kontestasi politik yang paling brutal dan penuh politik uang, karena lebih dari 50 persen pemberitaan pada Pemilu 2014 adalah tentang kecurangan Pemilu. Kecurangan-kecurangan yang terjadi pada Pemilu 2014 terjadi tidak hanya melibatkan para Calon Legislatif (Caleg), tetapi sampai kepada para penyelenggara Pemilu.

Hal tersebut diungkapkan Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem Rerie L. Moerdijat saat menjadi pemateri sekolah kader Partai NasDem di Kampus Akademi Bela Negara (ABN) Partai NasDem Jl. Pancoran Jakarta Selatan, Sabtu (7/4).

Rerie mengungkapkan, kasus pidana Pemilu tahun 2014 menjadi yang terbanyak dibandingkan dua penyelenggaraan Pemilu sebelumnya. Pemilu 2004 tercatat 50 kasus pidana Pemilu. Jumlah itu naik menjadi 150 kasus pada Pemilu 2009. Kemudian pada Pemilu 2014 lalu, jumlah kasus pidana Pemilu kembali naik menjadi 313 kasus.

Dalam paparannya, Rerie juga menjelaskan terkait dinamika Pemilu, salah satunya karakteristik pemilih, khususnya yang ada di DKI Jakarta. Menurutnya, hal ini penting dalam menjaring suara-suara pemilih.

“Karakteristik pemilih di Jakarta adalah Clientelist Social Walfare, yakni para pemilih lebih tertarik pada janji yang berhubungan dengan kesejahteraan sosial, seperti kemudahan akses yang berhubungan dengan kesehatan, pendidikan, serta pelayanan-pelayanan sosial,” ujar Rerie di depan peserta sekolah kader angkatan kesebelas dari DKI Jakarta, Sabtu (7/4).

Pada materi ini, para peserta sekolah kader juga diajak untuk mulai menentukan strategi, taktik, dan manajemen saat melakukan kampanye. Rerie menyebut ada 3 variabel dalam menghitung suara pemilih, yakni lembaga Pemilu, motivasi politik, dan ekspektasi publik. Terakhir, para peserta juga diajak melakukan pemetaan mulai dari mencari data pemilih hingga melakukan pembinaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *