Farahdina Al Anshori, Religius dan Berwawasan

JAKARTA (30 Juli): Berasal dari latar belakang keluarga yang agamis, Farahdina Al Anshori banyak menemukan lika-liku hidup yang membuatnya menjadi seorang politisi muda perempuan tangguh saat ini. Perjalanannya menjadi seorang politisi muda terbilang cukup panjang. Sebab, sejak kecil keluarga sudah mengarahkannya untuk menjadi dokter.

Saat masih duduk di Sekolah Menengah Atas (SMP), keluarga lebih dulu mengarahkan Farah untuk mengeyam pendidikan pesantren. Tujuannya satu, yaitu untuk memperkuat basic agama sebelum melanjutkan pendidikan lebih tinggi. Kedekatan keluarga sang ayah dengan Pondok Pesatren Langitan, membuat Farah banyak mendapat masukan terkait masa depannya. Salah satu masukan datang dari seorang ulama yang menyarankan agar dirinya kelak menjadi seorang doktor.

Usai menyelesaikan pendidikan SMP di Pondok Pesantren di Gresik, Farah melanjutkan pendidikannya ke Timur Tengah. Saat itu, dia lolos seleksi beasiswa ke Al-Azhar Kairo yang diadakan Departemen Agama (Depag – kini Kementerian Agama). Pendidikannya di Mesir berlangsung dari SMA hingga perguruan tinggi.

“Saat liburan, sempat pulang ke Indonesia, kemudian mendapat tawaran ngajar. Akhirnya  memutuskan melanjutkan Pendidikan Agama Islam di Universitas Ibn Khaldun Bogor,” ujar Farah, ditemui di Jakarta, Jumat (27/7).

Keinginan untuk melanjutkan cita-cita menjadi seorang doktor kembali muncul. Prancis menjadi salah satu negara yang diliriknya untuk melanjutkan pendidikan S2. Namun, orangtua lebih mendorong agar melanjutkan di Tanah Air, sehingga dipilihlah Universitas Indonesia dengan program studi Ketahanan Nasional.

“Negara Indonesia menjadi seperti ini karena orang-orang tidak mengisi pemerintahan dengan nilai-nilai keagamaan. Nilai-nilai rohani kurang tertanam, menyebabkan kondisi Indonesia menjadi seperti sekarang ini. Atas dorongan itulah, saya memilih melanjutkan ke ilmu umum,” jelasnya.

Usai melanjutkan pendidikan megister, Farah sempat menjadi konsultan managemen sebagai projek manager. Kesibukannya dengan ketahanan negara membuat wanita berhijab ini banyak bertemu dengan politikus maupun pakar pertahanan. Hal itu pula yang membuatnya bertemu dengan Partai NasDem.

Siapa sangka, di usianya yang masih terbilang muda, Farah sudah dipercaya menjadi Staf Tenaga Ahli DPR RI. Setelah menjadi staf ahli beberapa bulan, ia menemukan kembali jiwa  keorganisasiannya ketika studi di  Mesir. Hal ini yang mendorongnya untuk masuk dalam struktur kepengurusan NasDem di DKI Jakarta. Tidak tanggung-tanggung, Farah langsung ditunjuk menjadi Wakil Ketua Bidang Politik dan Pemerintahan di Struktur DPW NasDem DKI Jakarta.

“Seiring berjalannya waktu terjun ke politik, saya melihat bahwa NasDem memang lebih baik dari partai lain. Ini tidak lepas dari kegiatan saya sehari-hari di DPR, seperti etos kerja dan spirit yang ditularkan memang NasDem yang terbaik,” ungkapnya.

Perjalanan cita-cita Farah dari mulai menjadi dokter, kemudian doktor, hingga akhirnya menjadi seorang politisi diakuinya merupakan suatu lompatan yang luar biasa. Apalagi, awalnya keluarga sempat kaget ketika memutuskan terjun ke dunia politik, karena dia termasuk anak yang kurang kurang aktif di sekolah. Namun, keluarga percaya bahwa ini merupakan jalan hidup sang anak untuk mengembangkan diri.

Terlahir dari keluarga politisi membuat Farah banyak mengetahui seluk-beluk partai politik di Indonesia. Sebagai keluarga yang memiliki latar belakang keagamaan yang kuat dan aktif di politik, Farah dan keluarga sudah jenuh dengan partai-partai yang ada saat itu. Dukungan pun mengalir ketika Farah memutuskan untuk bergabung dengan Partai NasDem.

“Partai NasDem secara kejiwaan sangat cocok dengan saya dan keluarga,” imbuhnya

Tak bisa dipungkiri bahwa gagasan besar Gerakan Perubahan Restorasi Indonesia menjadi salah satu alasan Farah memilih bergabung ke Partai NasDem. Dirinya juga sempat membandingkan dengan partai lain yang terlalu mengusung doktrin-doktrin pemikiran tertentu.

“NasDem berusaha meramu itu, apapun latar belakangnya jika kita memberikan sumbangsih dengan nilai-nilai yang kita bawa bersama itu bisa diramu” katanya.

Gagasan Tanpa Mahar juga diakui Farah sebagai magnet kenapa ia memilih Partai NasDem. Menurutnya, politik tanpa mahar merupakan solusi permanen untuk budaya politik di Tanah air. Selama ini, ia melihat banyak orang mundur karena melihat biaya politik yang sangat tinggi. Namun di NasDem, ia membuktikan sendiri bahwa partai ini tidak ada setoran, apalagi mahar maupun biaya.

“Orang  bilang Partai NasDem banyak orang kaya. Ya memang, tapi jangan diukur dari rekening bank, orang kaya NasDem diukur dari seberapa besar kader mau berbagi kepada sesama kader maupun institusinya,” ujar wanita yang saat ini sedang aktif menyelesaikan pendidikan doktor di program studi administrasi negara.

Pengalaman selama menjadi staf ahli, Farah banyak menerima aduan dari masyarakat. Bahkan, dirinya kerap ikut merasakan yang dirasakan masyarakat. Sadar jika hanya menjadi staf ahli dirinya tidak mampu berbuat banyak, dia pun memutuskan untuk maju sebagai salah satu Bakal calon Legislatif (Bacaleg) untuk DPRD DKI Jakarta pada Pemilu Legislatif 2019.

Menurutnya, ketika menjadi staf ahli di DPR, yang bisa dilakukan hanyalah memberikan masukan ke anggota dewan, kemudian anggota dewan akan memberikan masukan ke pusat, itulah yang terjadi. Berbeda dengan di daerah, anggota dewan merupakan bagian dari pemerintahan daerah.

“Ini alasan saya memilih di DPRD, karena kalau orang butuh, maka saya bisa sekuat tenaga memperjuangkan hak tersebut di ruang rapat, sehingga minimal ada win-win solution,” terangnya.

Farah  mengakui, agama berperan penting yang mendorongnya untuk maju sebagai anggota legislatif. Dia tidak mau lagi menunggu memiliki kekiuatan finansial untuk maju. Baginya, dengan bermodal ilmu, idelisme, dan pengalamannya di pemerintahan memantapkan hatinya maju di Pemilu Legislatif 2019.

“Agama mengajarkan bahwa orang pertama yang wajib ditolong setelah keluarga adalah tetangga, baru masyarakat luas,” ujar wanita yang murah senyum ini.

Berbekal pendidikan yang sudah diperoleh, ditambah dengan berbagai pengalamannya berkecimpung di pemerintahan, membuat Farah merasa sudah cukup untuk berbuat lebih untuk masyarakat. Kini, sudah saatnya ia membagikan segala yang dimiliki untuk membantu masyarakat tanpa harus menunggu tua dan memiliki banyak uang.

“Founding father kita itu muda loh, ketika membangun negara ini. Mereka tidak menunggu tua untuk membuat perubahan dan dengan kapabilitas yang memadai,” ujarnya.

Bagi Farah, kekayaan dan tingginya jabatan seseorang tidak akan bisa menentukan arah kebijakan negara tanpa terjun ke politik. Untuk itu, dia mengajak kepada semua orang agar tidak menunggu kaya untuk berkecimpung di politik. Namun, jika sudah memiliki sesuatu yang bisa disebarkan untuk masyarakat banyak, sudah saatnya untuk bersama-sama melakukan perubahan.

“Di Indonesia, kontrol terhadap Parpol saat ini sangat tinggi di segala lini. Kalau kita bisa mempengaruhi kebijakan Parpol ke arah yang sesuai visi-misi kita dan sejalan dengan visi-misi Parpol, itu merupakan sesuatu yang sudah luar biasa, dan kita tidak perlu menunggu kaya, tua, dan berpengalaman,” pungkasnya. (FM).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *