Jokowi: Berdiri Sama Tinggi, Berjongkok Sama Rendah

JAKARTA (16 September): Seorang teman yang sering mengikuti kunjungan kerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) cerita pada saya. Perlu stamina dan daya tahan ekstra untuk mengikuti gerak kerja Presiden Jokowi. Andai ia seorang Panglima TNI, Presiden Jokowi itu mirip Jenderal M Yusuf. Seorang jenderal yang saban hari turun ke lapangan meninjau barak-barak tentara dan asrama prajurit.

Kemarin di akhir pekan, ada tiga agenda kerja Presiden Jokowi. Pertama, Jumat (14/9) siang, Presiden Jokowi membuka Kongres GMKI di Bogor. Dari Bogor, Presiden Jokowi terbang ke Yogyakarta membuka acara Temu Nasional Seribu Organisasi Perempuan. Saat membuka kegiatan itu, Presiden Jokowi masih memakai kemeja batik yang sama seperti yang dia kenakan di Kongres GMKI.

Paginya, Sabtu (15/9), Presiden Jokowi terbang ke Jawa Tengah membagi sertifikat kepada warga Kabupaten Grobogan, Jateng. Di Stadion Krida Bhakti, Kepala Negara membagi langsung 8.000 lembar sertifikat tanah untuk warga Grobogan dan sekitarnya.

Usai membagi sertifikat, Presiden Jokowi meninjau proyek dana desa berupa pembangunan talud di Desa Tambirejo, Kecamatan Taroh. Saat meninjau proyek padat karya pembangunan talud itu, Presiden  Jokowi melewati jalan di tengah persawahan. Warga petani laki-laki perempuan tampak sibuk memasang batu kali dengan adukan semen.

Presiden Jokowi singgah mengamati pekerjaan warga. Ia melihat sekeliling. Hamparan sawah terbentang luas. Saluran irigasi tampak sedang dikerjakan warga. Di samping kiri kanan Jokowi tampak Bupati Grobogan, Menteri Desa dan Gubernur Jateng ikut mendampingi.

Presiden Jokowi menepi. Ia ingin berbicara dengan rakyatnya. Jalan aspal itu lebih tinggi sekitar semeter dari tempat berdiri para petani. Presiden Jokowi mendekati pinggir jalan agar lebih dekat dengan rakyatnya, tapi tetap ada jarak ketinggian.

Tetiba, Presiden Jokowi berjongkok. Lututnya ditekuk hampir menyentuh tanah. Seketika rombongan presiden, seperti bupati dan menteri desa ikut berjongkok. Ibu Bupati mau tidak mau ikut berjongkok. Tidak mungkin atasannya jongkok dia berdiri. Seumur-umur mungkin itu kali pertama Bu Bupati jongkok seperti saat di toilet jongkok.

Spontanitas dan kerendahan hati Presiden Jokowi ini bukanlah pura-pura. Gerak spontan berempati melihat sekeliling ini menjadi nilai keseharian Presiden Jokowi. Ia cepat melihat, berpikir lalu bertindak. Tindakannya tulus tanpa kekakuan. Seperti dulu ketika Presiden SBY hendak memukul gong, Jokowi yang saat itu Gubernur DKI dengan gerak cepat sigap, bertindak menggeser gong itu agar SBY bisa memukul gong.

Saat bertemu dengan suku Anak Dalam Jambi 2 tahun lalu, kita melihat Presiden Jokowi dengan santai jongkok bersama beberapa suku anak dalam. Saat ke Berastagi berkunjung ke korban Gunung Sinabung, Jokowi duduk bertiga di kursi panjang kayu sebuah keluarga.

Presiden Jokowi tahu kehormatan nilai hidup itu bukan diukur dari jabatan atau pangkat. Kehormatan itu diperoleh karena nilai penghormatannya pada manusia. Itulah mengapa Presiden Jokowi tidak mau berjarak dengan rakyatnya. Ia tidak mau menyusahkan rakyatnya. Ia sama seperti kita yang memakai sepatu sendiri saat bepergian atau habis sholat. Bahkan kepada ajudannya sendiri, Jokowi sebisanya menenteng kopernya saat bepergian.

Kerendahan hati dan cara Jokowi menghormati orang lain terbentuk dari pengalaman hidupnya. Ia bukan anak yang lahir dengan bunyi gendang tetabuhan atau terompet. Ia bukan anak yang makan dengan sendok perak. Ia bukan remaja yang besar di pojok2 tongkrongan layaknya anak pejabat atau orang kaya.

Jokowi adalah kita. Kita rakyat Indonesia yang terlahir dari kesederhanaan dan kesulitan hidup. Terbentuk dan terasah dengan jari-jari mengangkat batu kali. Berpeluh keringat.

Melihat cara perilaku Jokowi memanusiakan manusia menyadarkan saya untuk lebih keras lagi memenangkan Jokowi. Memenangkannya berarti memenangkan kehormatan, martabat dan kemanusiaan

Jujur saja, saya merasa terganggu dengan tampilan Prabowo Subianto yang untuk memakai sepatu saja harus dipakaikan ajudannya ketika hendak naik kuda di ranch mewahnya Hambalang. Saya merasa terganggu dengan perilaku Sandiaga Uno yang untuk bicara saja harus naik meja dan kursi agar nampak lebih tinggi dari orang lain.

Orang macam begini memang sudah dari sana hidup mewah. Jadi mereka tidak tahu bagaimana mensejajarkan diri dengan orang kecil dan terpinggirkan. Jokowi adalah kita. Berdiri sama tinggi, jongkok sama rendah.

 

oleh: Birgaldo Sinaga

Caleg NasDem DKI Jakarta Dapil 3 Jakarta Utara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *